website free tracking




Mitos

Teori Konspirasi Tsunami Aceh 2004 Rekayasa Amerika

Teori Konspirasi Tsunami Aceh Rekayasa AmerikaTeori Konspirasi Tsunami Aceh Rekayasa Amerika

Tsunami Aceh 2004 adalah sebuah peristiwa yang sangat menggemparkan dunia pada 26 Desember 2004. Gempa megathrust bawah laut berkekuatan 9,1 skala Richter mengguncang Samudera Hindia di lepas pantai Sumatra Utara, berakibat Tsunami. Gelombang raksasa muncul setinggi 30 meter, menghantam Aceh, Thailand, Sri Lanka, India, Maladewa, dan pesisir timur Afrika.

Ratusan ribu korban berjatuhan. Para pakar tsunami dan gempa bumi seolah menjadi selebritis dadakan, karena media membutuhkan narasumber mengenai bencana besar tersebut. Sejumlah rumor beredar. Ada yang menuding, bencana itu sengaja dipicu Amerika, untuk mengalihkah perhatian dari perang Irak. Tsunami adalah hasil rekayasa senjata thermonuklir Amerika yang diujicobakan.

Situs BBC pada 2005 juga memberitakan rumor konspirasi yang mempersoalkan pangkalan militer AS di Pasifik, Diego Garcia yang selamat dari tsunami yang memantul liar di sepanjang Samudera Hindia. Sementara, pulau-pulau lainnya porak-poranda. Namun, pejabat Angkatan Laut AS di Diego Garcia langsung membuat bantahan di situsnya.

Menurut mereka, pulau tersebut tak terempas tsunami karena dikelilingi perairan dalam dan pantainya yang tinggi tak memungkinkan gelombang raksasa terbentuk. Bantahan juga disampaikan Dr Bart Bautisda, kepala ilmuwan di Philippine Institute of Volcanology and Seismology.

Berikut teori konspirasi tsunami Aceh yang di rekayasa Amerika.

1. Perubahan data NOAA

Teori Konspirasi Tsunami Aceh 2004 Rekayasa Amerika - Spoters
Perubahan data NOAA

National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), beberapa kali merubah data magnitudo dan posisi episentrum gempa, serta kejanggalan tidak adanya peringatan pada ‘seismograf’ di Indonesia dan India. Secara sederhana, gempa selalu dipicu oleh apa yang disebut frekuensi elektromagnetik pada 0,5 atau 12 Hertz, dan bukan merupakan sebuah proses yang terjadi secara mendadak seperti tsunami Aceh.

2. Kondisi korban tsunami

Teori Konspirasi Tsunami Aceh 2004 Rekayasa Amerika - Spoters
Kondisi korban tsunami

Sebagian besar mayat yang ditemukan sangat memprihatinkan terbujur kaku dengan kulit berwarna hitam pekat, kematian akibat tenggelam tidak akan mengubah warna kulit sedemikian cepat dan sedemikian hitam, sebaliknya mayat-mayat hitam juga nampak pasca dijatuhkannya bom atom di Hiroshima dan Nagasaki.

Baca Juga :  Alasan Dollar Amerika Serikat Menjadi Mata Uang Dunia

3. Datangnya kapal perang Amerika

Teori Konspirasi Tsunami Aceh 2004 Rekayasa Amerika - Spoters
Datangnya kapal perang Amerika

Kapal-kapal perang Amerika berdatangan setelah tsunami Aceh dengan cepat dan bertahan di Aceh selama beberapa bulan bukan sekedar memasukkan bantuan namun juga mengawasi wilayah laut agar peneliti Indonesia tidak turun ke sana.

4. Adanya sampah nuklir

Teori Konspirasi Tsunami Aceh 2004 Rekayasa Amerika - Spoters
Adanya sampah nuklir

Ditemukan puing-puing seperti senjata nuklir 2 bulan pasca tsunami di wilayah Somalia yang kemudian diungkap UNEP, yang diduga berasal dari Samudera Hindia.

Bagaimana bisa tsunami Aceh rekayasa, buatan Amerika?

Jenis senjata HAARP yang digunakan diperkirakan disebut Warhead Thermonuklir W-53 dengan kekuatan 9 megaton ternyata dapat dengan mudah ditempatkan dalam wadah yang mirip diving chamber (alat selam dalam) yang biasanya digunakan dalam eksploitasi minyak.

Wadah ini sekaligus melindunginya dari tekanan sebesar 10.000 pon per inchi persegi di dasar palung laut dalam. Bobot total dengan wadahnya kurang dari lima ton, sehingga dapat dijatuhkan dari buritan kapal suplai anjungan pengeboran minyak lepas pantai. Metode teknologinya disebut SCALAR, yang menggunakan gelombang elektromagnetik untuk memanipulasi kekuatan alam.

Teori Konspirasi Tsunami Aceh 2004 Rekayasa Amerika - Spoters
Teori Konspirasi Tsunami Aceh Rekayasa Amerika

Teknologi perusak berbasis gelombang elektromagnetik pertama kali dikenalkan saintis Rusia Nikola Tesla Saintis ini menjadikan bencana gempa di berbagai negara pada 1937 sebagai sampel penelitian. Selanjutnya, Tesla melakukan penelitian mengenai penciptaan alat yang mampu memunculkan gelombang frekuensi tinggi yang bisa memicu badai dan gempa tektonik.

Setelah melalui berbagai penyempurnaan, alat itu mampu mengalahkan kekuatan Nuklir. Belakangan senjata pemusnah massal itu dikenal sebagai elektromangnetik SCALAR. Anehnya, rancangan Tesla ini kemudian hilang tak berbekas setelah ia meninggal dan muncul kembali dalam program HAARP, padahal ketika pertama kali ditawarkan kepada Pentagon, rancangan Tesla ini ditolak mentah-mentah.

Teori Konspirasi Tsunami Aceh 2004 Rekayasa Amerika - Spoters
Teori Konspirasi Tsunami Aceh Rekayasa Amerika

Menurut Bertell, AS sudah melakukan uji coba sejak puluhan tahun lalu. Negeri Paman Sam menggunakan Barium dan Lithium yang “dikirim” ke lapisan ozon dengan bantuan gelombang elektromagnetik ke langit negara-negara asia. Teori Bertell didukung Michel Chossudovsky yang berprofesi sebagai analis persenjataan global.

Chossudovsky menuduh Pentagon sudah lama membuat senjata untuk memanipulasi cuaca. April 1997, menurut Menhan William Cohen, AS terpaksa menghadapi serangan senjata perubah cuaca dengan senjata sejenis. Demikian juga dengan penggunaan gelombang elektromagnetik pemicu gempa dan tsunami.

Apa yang dijelaskan Bartell dan Chossudovsky sebenarnya berada di luar nalar logika kita, sehingga kita lebih percaya bahwa sebuah tsunami terlalu musykil dibuat dan dirancang oleh manusia. Namun bila kita memikirkan isu apa yang saat ini digadang-gadang oleh Amerika dan sekutunya, khususnya mereka yang terlibat dalam manipulasi Pemanasan Global, maka senjata HAARP bukan lagi cerita fantasy Hollywood.

Teori Konspirasi Tsunami Aceh 2004 Rekayasa Amerika - Spoters
Teori Konspirasi Tsunami Aceh Rekayasa Amerika

Seperti orang-orang di seluruh dunia yang sebelumnya tidak pernah percaya pada Bom Atom yang dijatuhkan Enola Gay ternyata hasil rekayasa teknologi nuklir yang pada masa itu dianggap begitu canggih. Seperti kita ketahui HAARP (High Altitude Atmospheric Research Project) adalah senjata yang didisain untuk menciptakan bencana alam seperti gempa, badai dan tsunami.

Baca Juga :  Teori Konspirasi Yang Paling Mengerikan Dunia

HAARP memiliki alasan sendiri untuk dijadikan sebagai kekuatan baru dalam isu pemanasan global, seperti dalam project teranyar mereka yang menggunakan ELF (Extremely Low Frequency) untuk menembus lapisan tanah dan es kemudian menghancurkan/melelehkan lempeng artik, melubangi ozon seperti yang sudah dijelaskan, membuat gempa spt di Haiti, China dan Korea, serta menciptakan “hurricane”.

Apa itu Nuklir Tsunami?

Nuklir Tsunami, Akhirnya Terungkap, Sebagai Senjata Pemusnah Massal. Sebelum ditemukannya senjata nuklir, Tsunami terakhir terjadi pada tahun 1883. Tsunami yang terjadi disebabkan oleh sebuah letusan vulkanis di pulau krakatau, Indonesia.
Bisa saja kebetulan tetapi tsunami berikutnya terjadi di lepas pantai Alaska pada tahun 1946.

Pentagon memiliki lebih dari 10,000 buah Nuklir

Di dalam gudang persenjataannya yang mematikan. Setiap bom hydrogen adalah 50 kali lebih kuat daripada bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima, Jepamg pada tahun 1945. Sebuah bom hidrogen bila ditempatkan secara strategis dapat menghancurkan sebuah negara sebesar Inggris. Hitler memiliki Bom-H pada tahun dan Pentagon membawa bom-H Hitler ke Amerika Serikat dan diuji coba di Alaska pada bulan April 1946.

Secara teoritis, Pentagon 9 megaton W-53 hulu-ledak termonuklir (kiri atas), bisa dengan mudah dikemas dalam sebuah tempat kecil ‘menyerupai’ saturasi untuk menyelam (kanan atas), supaya terlindung dari tekanan 10,000 pound dari setiap inci persegi di dasar laut Sumatra Trench. Keseluruhan kemas yang dilapisi baja beratnya kurang dari lima ton, bisa diselipkan di buritan kapal penyuplai anjungan minyak, yang di Asia sendiri terdapat lebih dari 300 buah. Siapa yang akan memperhatikan?

Baca Juga :  Sejarah Dibalik Berdirinya Patung Liberty

Bom hidrogen yang mematikan adalah nuklir di dalam nuklir.

Hidrogen atau bom thermonuklir adalah nuklir di dalam nuklir. Dengan kata lain, ia menggunakan fisi (pembelahan sel) dan milyaran derajat dalam sebuah bom atom konvensional (primary) untuk memicu sebuah reaksi berantai (fusion) dalam bom lain (secondary) dalam rangka menciptakan ledakan nuklir. Tahap ketiga atau tertiary dapat ditambahkan hingga hasilnya mencapai 20 juta ton TNT.

Dr. Edward Teller mengatakan bahwa limit monster ini adalah 100 juta ton TNT

Bom-H pertama diproduksi oleh Nazi Jerman dengan bentuk yang sangat besar dan memerlukan pendingin khusus (cryogenics) untuk menjaga agar cairan deuterium tetap berada di bawah 400 derajat Fahrenheit Pada waktu itu kapal selam merupakan cara yang ideal untuk mengantarkannya, namun akan meletus juga sewaktu terjadi ledakan.

Uji coba Bom Atom pertama bertempat di Port Chicagopada tanggal 17 Juli 1944

Ledakan atom pertama di dunia terjadi di Port Chicago di sebelah utara San Francisco pada tanggal 17 Juli, 1944. Ledakan atom ini merupakan uji coba senjata yang dirakit dengan bom uranium yang kemudian dijatuhkan di Hiroshima, Jepang pada tanggal 6 Juli, 1945.

Uji coba atom dilakukan dengan pura-pura menggunakan bahan peledak konvensional. Ratusan pelaut memuat perlengkapan senjata ke atas kapal di pelabuhan untuk persiapan Perang Pasifik. Ledakan terjadi dan menghancurkan segalanya dalam jarak 1/2 mil dan menyebabkan gelombang air laut besar. Pentagon mengatakan bahwa perlengkapan senjata di atas kapal terbakar api yang menyebabkan ledakan. Ini merupakan kebohongan murni karena tidak ada api sebelum terjadinya ledakan.

Prinsip-prinsip bom Hidrogen sudah diketahui pada tahun 1944.

Kekuatan penghancur sebuah bom hidrogen dibandingkan dengan sebuah bom atom biasa adalah seperti sebuah mainan. Hitler tidak main-main dan para ilmuwannya memfokuskan dalam membuat dan mengirim Bom-H. Menurut Dr. James B. Conant, Presiden Universitas Harvard dan penasehat ilmiah untuk Jenderal Groves, Super Bom Amerika Serikat dengan seksama dikembangan pada tahun 1944.

Sayang ini masih menjadi teori konspirasi benar atau tidak dugaan itu, hingga kini belum bisa dibuktikan.

source : berbagaisumber

Leave a Reply